Tampilkan postingan dengan label Ilmu pengetahuan dan teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu pengetahuan dan teknologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

Bagaimana bentuk benda 26 dimensi

Saya yakin anda tidak asing lagi dengan bentuk benda/objek 2 Dimensi , 3 Dimensi dan 4 Dimensi. Namun Bagaimana dengan objek 10 Dimensi dan 26 Dimensi, kira-kira bentuknya seperti apa ?


Sabtu, 17 Juli 2010

Daftar Nomor Kendaraan Bermotor di Indonesia

Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB), atau sering kali disebut plat nomor atau nomor polisi, adalah plat aluminium tanda kendaraan bermotor di Indonesia

Berikut ini adalah Kode wilayah pendaftaran kendaraan bermotor ditetapkan oleh Peraturan Kapolri Nomor Polisi 4 Tahun 2006.


Sumatera

Senin, 21 Juni 2010

Hubungan warna mobil dengan kepribadian pemiliknya

Mungkin tak banyak yang menyangka kalau warna pilihan yang Anda terapkan di kendaraan, jadi cerminan pribadi.

Namun penulis buku Color Answer, Leatrice Eiseman, menyatakan ada ikatan kuat di antara dua hal itu. Secara garis besar, ia menjelaskan beberapa warna dan kepribadian yang terlentang di baliknya.

Silahkan saja simak, siapa tahu bisa membantu dalam pemilihan warna untuk kendaraan Anda


Jumat, 18 Juni 2010

Mobil murah produk china seharga 25 juta dan 40 juta

Sebuah pabrikan mobil asal China, Geely siap membuat mobil murah yang siap dipasarkan 2013 nanti dengan harga 10.000 yuan dan rencananya akan dipasarkan di Indonesia dengan harga sekitar 25 juta.




Rabu, 17 Februari 2010

India produksi rudal jelajah dengan kecepatan supersonik 1km per detik

BrahMos Aerospace, perusahaan patungan India-Rusia, memproduksi rudal jelajah supesonik, senjata yang diklaim produsennya sebagai rudal jelajah tercepat di dunia itu.

Rudal produksi India-Rusia itu dapat terbang dengan kecepatan satu kilometer per detik, sedangkan kecepatan ambar suara di udara sekitar 343 m/detk. BrahMos yakin bahwa dalam 10-15 tahun ke depan para produsen rudal jelajah Amerika maupun Prancis tidak dapat menyainginya karena perusahaan itu tidak hanya mampu meraih pertumbuhan tercepat tetapi juga biaya produksinya paling efisien.

Rudal BrahMos membawa hulu ledak konvensional seberat 200 kilogram dengan jangkauan tembak 280 kilometer. Para pakar India dan Rusia memulai kerja sama mereka dalam pembuatan rudal ini pada 2001.

Kamis, 28 Mei 2009

TV Plasma dan TV LC, Mana yang lebih baik


Apakah ada perbedaan kualitas gambar antara Plasma, LCD dan TV biasa?

Antara Plasma dan LCD menghasilkan gambar yang bagus jadi boleh dibilang tidak terlalu signifikan dalam hal kualitas gambar tetapi untuk TV biasa (CRT), masih sebagian orang memilih jenis ini karena dapat menghasilkan kulitas gambar yang lebih baik secara keseluruhan.

Jadi dalam hal ini, tidak ada pemenangnya, kecuali mungkin dalam hal merek TV yang akan anda pilih

Apa keuntungan yang dimiliki Plasma dibandingkan LCD?

Plasma biasanya dapat menampilkan sudut pandang yang lebih lebar dibandingkan LCD sehingga seperti kita ketahui semakin lebar sudut pandang (angle view) maka semakin baik karena akan memudahkan anda dalam menentukan posisi anda duduk.

Plasma dapat lebih baik menghasilkan gambar yang tajam, terutama dalam hal "menangkap" gerakan yang cepat dalam sebuah film yang sedang ditonton.

Yang terakhir adalah masalah harga dimana harga plasma lebih murah dibandingkan LCD walaupun belakangan ini, ada beberapa LCD yang harganya menyaingi Plasma.

Apa keuntungan yang dimiliki LCD dibandingkan Plasma?


LCD mempunyai resolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Plasma untuk ukuran TV yang sama.

LCD mengkonsumsi daya listrik yang lebih kecil dibandingkan Plasma (sekitar 30% lebih rendah).

LCD mempunyai life span (waktu pemakaian) yang lebih panjang dari Plasma dimana biasanya LCD bisa bertahan sampai pemakaian 60.000 jam sedangkan Plasma sekitar 30.000 jam (belakangan ada juga Plasma yang dapat bertahan sampai dengan 60.000 jam)

Mana yang lebih baik untuk anda? Plasma atau LCD?

Jika anda menginginkan TV dengan ukuran kecil atau dibawah 50 inch maka LCD adalah pilihan terbaik mengingat harga LCD untuk ukuran tersebut jauh lebih murah bahkan semakian murah saat ini.

Jika anda menginginkan TV berukuran besar atau lebih dari 50 inch maka kami menyarankan anda untuk membeli Plasma karena harga Plasma untuk ukuran diatas 50 inch jauh lebih murah dibandingkan dengan LCD.

Terlepas Plasma atau LCD yang anda akan beli, pastikan bahwa TV tersebut mempunyai intergrated/ digital tuner (bukan analog) untuk mendapatkan hasil gambar yang lebih baik. (http://erabaru.or.id/)

Spesies Manusia Kerdil Ditemukan di Flores

Para ilmuwan telah menemukan fosil-fosil tengkorak dari suatu spesies manusia yang tumbuh tidak lebih besar dari kanak-kanak berusia lima tahun di goa di Flores, Indonesia. Manusia kerdil yang memiliki tengkorak seukuran buah jeruk ini diduga hidup 13.000 tahun lalu. Penemunya adalah ilmuwan-ilmuwan Indonesia dan Australia. Para ilmuwan yakin tengkorak yang mereka temukan ini berasal dari spesies manusia yang benar-benar baru bagi dunia ilmu pengetahuan.


Tengkorak pertama dari spesies yang kemudian disebut sebagai Homo floresiensis atau Manusia Fores itu ditemukan September 2003. Ia berjenis kelamin perempuan, tingginya saat berdiri tegak kira-kira satu meter, dan beratnya hanya 25 kilogram. Ia diduga berumur sekitar 30 tahun saat meninggal 18.000 tahun lalu.


Tengkorak dan tulang belulangnya ditemukan dalam sebuah lokasi endapan di goa Liang Bua, dimana dijumpai pula beberapa peralatan batu dan tulang belulang gajah kerdil, hewan-hewan pengerat sebesar anjing, kura-kura raksasa, dan tulang Komodo. Perbandingan ukuran tengkorak Homo floresiensis dengan tengkorak manusia modern, Homo sapiens. Karena ukurannya, Homo floresienses dianggap sebagai penemuan paling spektakuler dalam dunia paleoanthropology sejak setengah abad ini, dan dilukiskan sebagai spesies manusia paling ekstrim yang pernah ditemukan.


Mereka tinggal di Flores sekitar 13.000 tahun lalu, yang artinya mereka ada saat manusia modern (Homo sapiens) juga ada. "Menemukan makhluk yang berjalan dengan dua kaki dan berotak kecil pada periode waktu dimana manusia modern telah eksis adalah sesuatu yang amat menakjubkan," kata Peter Brown, seorang paleoanthropologis dari Universitas New England di New South Wales, Australia.


"Penemuan ini benar-benar tidak disangka," kata Chris Stringer, direktur program Human Origins di Museum Natural History, London. "Menemukan manusia purba di Flores saja sudah hebat. Bahwa mereka berukuran hanya satu meter dan memiliki otak seperti otak simpanse adalah hal yang lebih menakjubkan. Dan fakta keberadaan mereka yang hidup 20.000 tahun lalu, dimana nenek moyang manusia modern mungkin pernah bertemu mereka adalah hal yang sungguh-sungguh luar biasa."


Para peneliti memperkirakan orang-orang kerdil ini hidup di Flores sejak sekitar 95.000 tahun lalu hingga setidaknya 13.000 tahun lalu. Mereka mendasarkan teori ini atas perhitungan karbon terhadap tulang belulang dan peralatan batu yang ditemukan bersama fosil. Orang-orang kerdil ini mungkin bangsa pemburu karena ditemukan pula bilah-bilah pisau batu, ujung panah atau tombak, serta peralatan memotong lain.


Dalam komentarnya di majalah Nature, Marta Mirazón Lahr dan Robert Foley, keduanya dari Leverhulme Centre for Human Evolutionary Studies di Universitas Cambridge, mendeskripsikan Homo floresiensis sebagai spesies yang akan mengubah pandangan kita mengenai geografi evolusi manusia, biologi, dan kebudayaan purba.


Penemuan ini menunjukkan bahwa genus Homo ternyata lebih bervariasi dan lebih luwes dalam kemampuan adaptasinya dibanding perkiraan semula. Genus Homo sendiri termasuk di dalamnya adalah manusia modern (Homo sapiens), Homo erectus, Homo habilis, dan Neandertals, memiliki ciri-ciri adanya rongga otak yang relatif besar, posturnya tegak, dan mampu membuat peralatan.


"Homo floresiensis adalah tambahan bagi daftar spesies manusia yang hidup pada waktu bersamaan dengan manusia modern. Saya kira orang-orang akan terkejut mendengar beberapa ribu tahun lalu kita tidak sendirian," kata Brown.


Walau tubuhnya lebih kecil, otaknya lebih mungil, dan mempunyai anatomi tubuh yang merupakan perpaduan primitif dan modern, spesies ini tetap dimasukkan dalam genus Homo. Para peneliti menduga orang-orang kerdil ini berevolusi dari ukuran manusia normal, yakni dari populasi Homo erectus yang mencapai Flores sekitar 840.000 tahun lalu.


"Secara fisik mereka berukuran sama dengan anak-anak manusia modern berusia tiga tahunan, namun dengan rongga otak hanya sepertiganya," kata Richard Roberts, seorang geochronologist dari Universitas Wollongong, Australia. "Mereka memiliki lengan lebih panjang, tulang alis lebih tebal, dahi yang miring, dan tidak mempunyai dagu."


Rahang bawahnya diisi gigi-gigi besar tumpul seperti gigi Australopithecus, manusia purba yang hidup di Afrika lebih dari tiga juta tahun lalu. Gigi depannya lebih kecil seperti gigi manusia modern. Lobang mata manusia Flores ini besar dan bulat, dan tulang pinggulnya tampak primitif, mirip bangsa kera. Walau secara keseluruhan tidak terlihat seperti manusia modern, beberapa perilaku mereka sungguh mirip manusia.


Orang-orang Flores ini menggunakan api dalam perapian untuk memasak. Mereka juga berburu stegodon, sejenis gajah kerdil primitif yang hidup di sana. Walau kerdil, seekor stegodon bisa mencapai berat 1.000 kilogram, dan pasti merupakan tantangan besar bagi pemburu-pemburu dengan ukuran tubuh seperti anak-anak. Artinya perburuan haruslah dilakukan dengan komunikasi efektif dan perencanaan, kata para peneliti.


Hampir seluruh fosil stegodon yang berkaitan dengan manusia kerdil itu berasal dari hewan muda, menunjukkan bahwa orang-orang itu memilih untuk memburu stegodon kecil. Dari fosil yang dijumpai, makanan orang-orang Flores itu termasuk ikan, katak, ular, kura-kura, burung, dan hewan-hewan pengerat.


Mereka itu bukanlah jenis yang bodoh karena berhasil bertahan berdampingan dengan jenis kita setidaknya selama 30.000 tahun tanpa kita sadari. Mereka juga bisa membuat beberapa peralatan batu, memburu gajah pigmi, dan menyeberangi setidaknya dua laut untuk mencapai Flores dari Asia. Dan uniknya dengan otak yang hanya sepertiga otak kita. Namun mereka, bersama dengan gajah-gajah kerdil punah akibat letusan gunung api besar.


Di lain pihak, tidak ada bukti bahwa nenek moyang manusia modern pernah mencapai Flores sebelum 11.000 tahun lalu, sehingga tidak diketahui apakah Homo floresiensis pernah bertemu dengan jenis kita. Para ilmuwan menemukan sisa-sisa mereka bersama stegodon hanya di bawah lapisan debu vulkanis berusia 12.000 tahun, sedangkan sisa-sisa manusia modern ditemukan di atas lapisan itu.


Yang jelas, rumor, mitologi, dan legenda mengenai makhluk-makhluk kerdil sudah beredar di Flores selama berabad-abad. Penduduk setempat diketahui sering menceritakan mengenai Ebu Gogo, manusia kerdil berbulu yang tingginya hanya satu meteran. Ebu Gogo diceritakan bisa berkomunikasi dengan sesamanya dalam bahasa yang terdengar seperti menggumam dan bisa menirukan ucapan manusia seperti halnya burung beo. Cerita turun temurun itu bisa jadi berarti mereka pernah berinteraksi dengan manusia modern.


"Dilihat dari perspektif regional, jelas ada manusia modern di Australia sejak setidaknya 40.000 tahun lalu, dan di Kalimantan sejak 43.000 tahun lalu," kata Roberts. "Sehingga ada waktu dimana manusia dan orang kerdil hidup dalam periode sama antara 40.000 hingga 18.000 tahun lalu. Namun bagaimana interaksi mereka, kita tidak tahu sama sekali, sebelum memperoleh bukti-bukti lebih jelas."


Para ilmuwan juga berkeinginan meneliti bagaimana dan mengapa Homo floresiensis memiliki tubuh begitu kecil. Ketika fosilnya ditemukan pertama kali, mereka menyangka itu adalah fosil anak kecil. Bisa dimaklumi karena sejauh ini tidak ada catatan adanya bangsa yang sekerdil itu. Orang pigmi di Afrika saja lebih tinggi dengan ukuran tubuh rata-rata 1,4 hingga 1,5 meter.


Salah satu penjelasan mengenai hal itu adalah bahwa selama ribuan tahun, orang-orang ini menjadi makin kecil karena kondisi alam menjadikan mereka kecil. Mamalia-mamalia yang menjadi kerdil di pulau-pulau Flores juga mendukung teori itu. Sebabnya antara lain karena di sana hanya ada sedikit saja persedian makanan, sedikit hewan pemangsa, dan sedikit spesies yang berebut wilayah. Karena kebutuhan energi per harinya sedikit, maka tidak diperlukan tubuh besar untuk bertahan.


Tentu saja tidak ada bukti yang membenarkan teori di atas. "Yang jelas tidak ada fosil manusia berbadan besar yang ditemukan di Flores bersama peralatan-peralatan batu berusia 840.000 tahun lalu," kata Brown. "Artinya mereka mungkin tidak mengerdil di sana karena tidak ada bukti nenek moyangnya bertubuh besar. Mereka mungkin tiba sudah dalam postur kecil." (http://www.kompas.com)

Misteri Kota Hilang di Dasar Laut

Peninggalan prasejarah kembali ditemukan di dasar laut. Di Kuba ditemukan kota kuno yang kira-kira berusia 600 tahun, juga di Semenanjung Gujarat yang diperkirakan berusia 9000 tahun. Asal-usul peradaban manusia semakin terungkap.

Pada Desember 2001, sebuah penemuan baru di Kuba telah menyajikan bukti yang lebih jauh untuk kebudayaan prasejarah. Di bawah ini adalah berita baru yang bersumber dari berita Reuters, 12 Desember 2001 yang berjudul: ''Puing-puing dari "Kota yang Hilang" Ditemukan di Bawah Laut Kuba''. Berikut beritanya;

Dengan Menggunakan Robot Kapal Selam untuk menjelajah dasar laut Kuba, para peneliti mengemukakan bahwa pada mereka telah menemukan beberapa struktur-struktur bebatuan yang mungkin telah dikonstruksi oleh peradaban kuno yang tidak diketahui ribuan tahun lalu.


Ahli-ahli dari Perusahaan Penjelajah Kanada mengatakan bahwa selama musim panas, mereka mendokumentasikan puing-puing dari "Kota yang Hilang" dibawah permukaan air pantai Guaanahacibabes Peninsula, disebelah barat pulau. Setelah memperingatkan bahwa sifat penemuan mereka tidak seluruhnya dapat dipahami, pemimpin ekspedisi mengatakan bahwa mereka akan kembali di bulan Januari untuk mengadakan penelitian lebih lanjut. "Ini adalah sebuah stuktur yang mengagumkan yang mungkin merupakan suatu pusat kota yang besar", ujar Paulina Zelitsky, ahli kelautan Kanada dari perusahaan Advance Digital Communication (ADC). Peneliti menunjukkan bahwa struktur misterius tersebut kemungkinan besar telah dibangun paling tidak sekitar 6000 tahun yang lalu (1.500 tahun sebelum piramida pertama di Giza, Mesir).

Pada bulan Juli 2000, peneliti ADC menggunakan peralatan sonar mengindentifikasikan sebuah dasar di kedalaman 650 meter, yang tersusun secara simetris dari batu-batuan, menyerupai sebuah layout kota dilapisi oleh pasir, yang secara jelas terlihat. ''Dari atas, stuktur-struktur tersebut terlihat seperti piramid, jalan dan bangunan-bangunan,'' imbuh Paulina.

Satu tahun kemudian, pada bulan Juli 2001, tim ADC, rekan Paulina dari Kuba dan ahli-ahli dari akademi Ilmu Pengetahuan Kuba kembali ke area tersebut dengan menggunakan kapal laut bernama Ulises dan mengirimkan robot kapal selam, yang dikendalikan oleh remote control untuk mendokumentasikan bagian-bagian dari area seluas 20 meter persegi. Hasilnya menunjukkan adanya blok-blok besar dari granit yang berbentuk formasi melingkar dan tegak lurus. Sebagian dari blok-blok tersebut, mempunyai panjang dua sampai lima meter, tidak terlapisi oleh apapun. Yang lainnya dilapisi oleh sedimen dan pasir putih.

Menurut para peneliti, penemuan yang membangkitkan minat ini menyajikan bukti bahwa Kuba kemungkinan besar mempunyai hubungan dengan Yucatan Peninsula oleh garis daratan. "Ada banyak teori baru tentang pergerakan daratan dan kolonisasi dan apa yang kita lihat disini menyajikan banyak informasi-informasi baru yang menarik,'' jelas Zelitsky.

Para arkeolog ilmu kelautan telah menemukan suatu tempat bersejarah dari kebudayaan kuno di Teluk Khambhat di Semenanjung Gujarat, berdekatan dengan semenanjung barat India. Diperkirakan memiliki riwayat sejarah 9000 tahun dan beberapa ribu tahun lebih lama dibanding kota kuno yang pernah diketemukan oleh manusia sebelumnya. Demikian diberitakan radio BBC London, 16 Januari 2002.

Lokasi itu ditemukan secara tidak sengaja ketika para ilmuwan kelautan dari Institut Nasional Teknik Kelautan sedang melakukan uji coba tingkat pencemaran air di area tersebut. Peralatan uji coba mereka menerima tanda-tanda asing, dan mereka memasang 2 buah peralatan sonar dengan sensitifitas tinggi di samudra guna menemukan sumber tanda-tanda asing tersebut.

Tanpa disangka-sangka, mereka menemukan lokasi bersejarah kota kuno ini, 9000 m2, membentang di pantai. Artifak yang ditemukan oleh anggota riset di dasar samudra meliputi gigi manusia yang sudah tidak lengkap lagi, tulang hewan, potongan peninggalan dari kayu dan keramik. Mineral karbon yang ada menunjukkan bahwa artifak tersebut diperkirakan telah ada sejak 9000 tahun yang silam. Gambar lokasi bersejarah memperlihatkan adanya tangga, kamar mandi, dan pura di sana.

Orang-orang menganggap kota terkuno yang pernah dibangun manusia adalah kota yang dibangun di lembah antara 2 sungai di Mesopotamia, antara 4000 - 3500 SM, sementara kebudayaan di lembah Sungai Indus berusia sekitar 2500 SM. Penemuan baru di Samudra India ini telah menyanggah anggapan tersebut. Para arkeolog berpendapat bahwa kebudayaan tersebut kemungkinan adalah kebudayaan pra-sejarah, yang tidak dikenal sama sekali oleh umat manusia sekarang.

Dengan penemuan-penemuan arkeologis pada jaman prasejarah tersebut, pengertian manusia akan asal-usul umat manusia dan sejarah manusia sedikit demi sedikit mulai berubah. Beberapa teori, yang telah diterima secara luas bahkan sampai hari ini, seperti misalnya Teori Evolusi Darwin, terbukti tidak dapat menjelaskan penemuan ini. Sekarang saatnya membuka mata dan memahami diri kita sendiri dan dunia ini, dengan cara pandang yang baru (http://erabaru.or.id/)

Misteri Tengkorak Kristal Suku Maya

Sebuah legenda telah diceritakan secara turun temurun sejak lama di Amerika Tengah. Baik suku Maya dan suku Aztec percaya bahwa dunia telah dihancurkan 4 kali dan yang kita tempati sekarang adalah dibawah Matahari ke 5. Raksasa hidup dibawah matahari pertama, dunia mereka telah dihancurkan oleh air. Matahari kedua menyaksikan naga dari udara menghancurkan dunia dan orang-orang diubah menjadi kera, hanya seorang pria dan seorang wanita yang diselamatkan. Matahari ketiga telah dihancurkan oleh api surga (meteor), manusia pada masa itu hanya makan buah-buahan…


Pada masa Matahari ke 4, manusia telah mati karena kelaparan, yang diikuti dengan banjir api dan darah. Diperkirakan akhir dari dunia ke 5 telah tiba karena Bumi telah bergetar (dikarenakan kemungkinan akan terjadinya pembalikan kutub magnet Bumi). Kemudian semua kehidupan akan lenyap.


Mungkin anda telah mendengar tentang kalender suku Maya. Dimulai dari 13 Agustus 3114 Sebelum Masehi, dan akhir jaman diperkirakan akan jatuh pada 21 Desember 2012. Ini berhubungan dengan Venus. Tetua suku Maya meninggalkan naskah kuno berisi berbagai ramalan, khususnya mengenai gerhana matahari. Mereka dianggap sebagai ahli astronomi yang terkenal.


Pada suatu masa ketika manusia menghuni 12 planet, terdapat 13 tengkorak kristal yang ditinggalkan. Mereka meninggalkannya untuk orang di Bumi. Orang Atlantis meninggalkannya untuk suku Maya. Bila digabungkan bersama, tengkorak ini dapat menyingkap informasi tentang asal usul kita dan bagaimana cara untuk menghindari bencana di masa yang akan datang. Nenek moyang kita dapat membuatnya berbicara, rahangnya dapat bergerak. Kita mungkin bisa menganggapnya sebagai sebuah komputer super canggih.


Hasil dari berbagai penelitian tentang tengkorak ini sangat mencengangkan. Sebut saja penelitian pada tengkorak yang dinamakan Anna Mitchell-Hedges yang dilakukan oleh laboratorium Hewlett Packard. Hasilnya bisa diringkas sebagai berikut: “Peneliti kami tidak dapat menjelaskan bagaimana cara tengkorak ini dipahat pada masa lalu tanpa menggunakan alat-alat jaman sekarang.”


Menurut seorang ahli di Hewlett Packard, akan membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk memahat tengkorak Anna Mitchell-Hedges meskipun menggunakan alat-alat modern. Tidak dapat dijelaskan bagaimana sebuah pahatan yang rapuh dapat bertahan utuh menghadapi goncangan-goncangan dan panas bumi.


Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja membantu memberikan bukti kebenaran dari legenda ini.


Perlu diinformasikan pula bahwa sejak akhir abad ke 19, perdagangan tengkorak kristal telah dimulai, namun kebanyakan adalah merupakan duplikat.

Piramida di Segitiga Bermuda

Belum lama ini, beberapa ilmuwan Amerika, Perancis dan negara lainnya pada saat melakukan survey di area dasar laut Segitiga Bermuda, Samudera Atlantik, menemukan sebuah piramida berdiri tegak di dasar laut yang tak pernah diketahui orang, berada dibawah ombak yang menggelora! Panjang sisi dasar piramida ini mencapai 300 meter, tingginya 200 meter, dan jarak ujung piramida ini dari permukaan laut sekitar 100 meter. Jika bicara tentang ukuran, piramida ini lebih besar skalanya dibandingkan dengan piramida Mesir kuno yang ada di darat. Di atas piramida terdapat dua buah lubang yang sangat besar, air laut dengan kecepatan tinggi melalui kedua lubang ini, dan oleh karena itu menggulung ombak yang mengamuk dengan membentuk pusaran raksasa yang membuat perairan disekitar ini menimbulkan ombak yang dahsyat menggelora dan halimun pada permukaan laut. Penemuan terbaru ini membuat para ilmuwan takjub.

Bagaimanakah orang dulu membangun piramida dan hidup didasar laut dengan lautnya yang gemuruh menggelora? Ada beberapa ilmuwan Barat yang berpendapat bahwa Piramida di dasar laut ini mungkin awalnya dibuat diatas daratan, lalu terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan tenggelam ke dasar laut seiring dengan perubahan di darat. Ilmuwan lainnya berpendapat bahwa beberapa ratus tahun yang silam perairan di area Segitiga Bermuda mungkin pernah sebagai salah satu landasan aktivitas bangsa Atlantis, dan Piramida di dasar laut tersebut mungkin sebuah gudang pemasokan mereka. Ada juga yang curiga bahwa Piramida mungkin sebuah tanah suci yang khusus dilindungi oleh bangsa Atlantis pada tempat yang mempunyai sejenis kekuatan dan sifat khas energi kosmosnya, dia (Piramida) bisa menarik dan mengumpulkan sinar kosmos, medan energi atau energi gelombang lain yang belum diketahui.dan struktur pada bagian dalamnya mungkin adalah resonansi gelombang mikro, yang memiliki efek terhadap suatu benda dan menghimpun sumber energi lainnya.



Benarkah demikian? Master Li Hongzhi dalam buku Zhuan Falun mempunyai penjelasan tentang penemuan peradaban prasejarah sebagai berikut;

"Di atas bumi ada benua Asia, Eropa, Amerika Selatan, Amerika Utara, Oceania, Afrika dan benua Antartika, yang oleh ilmuwan geologi secara umum disebut 'lempeng kontinental'. Sejak terbentuknya lempeng kontinental sampai seakrang, sudah ada sejarah puluhan juta tahun. Dapat dikatakan pula bahwa banyak daratan berasal dari dasar laut yang naik ke atas, ada juga banyak daratan yang tenggelam ke dasar laut, sejak kondisi ini stabil sampai keadaan sekarang , sudah bersejarah puluhan juta tahun. Namun dibanyak dasar laut, telah ditemukan sejumlah bangunan yang tinggi besar dengan pahatan yang sangat indah, dan bukan berasal dari warisan budaya umat manusia modern, jadi pasti bangunan yang telah dibuat sebelum ia tenggelam ke dasar laut." Dipandang dari sudut ini, misteri asal mula Piramida dasar laut ini sudah dapat dipecahkan.(http://erabaru.or.id/)

Adakah Alam Semesta Sebelum Big Bang?

“Apa yang diketahui adalah terbatas, yang tak diketahui adalah tidak terbatas, secara rasional kita berdiri di atas pulau kecil di tengah lautan tanpa batas yang tidak dapat dijabarkan.” —Thomas Henry Huxley (1825-1895)

Setiap gunung, sungai, dan lembah, semua binatang dan umat manusia—yang dulu, sekarang dan yang akan terjadi di masa depan, mereka semua pada suatu ketika pernah menyatu dalam sebuah titik api kecil. Itu adalah suatu titik yang memiliki kepadatan yang tak terbatas, sehingga daya imajinasi kita ini mungkin tidak akan pernah mampu memahaminya sama sekali. Jutaan milyaran ton materi yang digabungkan dengan energi yang besar dari alam semesta, mulai mengembang dan pecah dalam suatu ledakan mahabesar sekitar 20 milyar tahun yang lalu.

Dibandingkan dengan Big Bang (Ledakan Besar), maka suara ledakan dari bom atom yang dianggap paling dahsyat oleh manusia, hanyalah seperti suara nyamuk yang terjatuh di tanah pada sisi lain dari planet bumi. Pengembangan yang konstan dari semua yang ada itu telah merubah alam semesta menjadi sup plasma, secara berangsur-angsur bertransformasi ke suatu kondisi yang terus meningkat, yang hampir sama dengan apa yang kita ketahui saat ini.

Kemudian materi ini lambat laun mendingin, membentuk quarks pertama, elektron, dan proton. Ratusan, ribuan tahun telah lewat, dan elektron dan nukleus bergabung membentuk atom, dan setelah itu, quasar, bintang, sekelompok galaksi, dan semua itu adalah alam semesta yang sudah kita kenali.


Di luar semua informasi yang didapat bertahun-tahun lewat penyelidikan ilmiah, maka fase alam semesta pada momen-momen pertama setelah ledakan hebat itu masih saja menjadi bahan perdebatan sengit.

Berbagai macam teori yang hanya berkutat dalam lingkup ilmu pengetahuan, bagai sedang mengurai benang kusut, saat mereka mencoba menjelaskan masalah keadaan quantum khusus pada fase primitif --peristiwa paling awal dari Big Badaboom. Hingga kini masih tidak ada satu pun jejak fisik yang meyakinkan yang dapat menjelaskan 10 – 33 detik pertama dari alam semesta itu.

Bila kita ingin mencoba memahami awal mula peristiwa ledakan penting ini, bahkan lebih kompleks. Semakin banyak yang kita tahu penyebab pasti dari setiap peristiwa dan secara berangsur-angsur pula kita menyadari bahwa sesuatu itu pasti memiliki penyebabnya, alasan dibalik mengapa alam semesta diciptakan, akan menjadi suatu teka-teki yang lebih besar lagi – mengungkap kebenaran yang terakhir.
Big Bang, Big Crunch, dan Siklus Tak Terbatas

Satu teori yang dikemukakan untuk menjelaskan asal mula yang paling mula adalah Oscillating Universe (Pergerakan Alam Semesta). Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa materi yang terkandung dalam alam semesta adalah cukup untuk mencapai suatu gaya gravitasi yang kuat, cukup besar untuk menghentikan pemuaian yang lebih lanjut, dan memulai suatu saat yang telah ditentukan dalam sejarah, membalikkan proses tersebut.

Menurut teori ini, kontraksi yang konstan pada keseluruhan alam semesta akan memuncak pada titik primordial - suatu fenomena yang dijuluki Big Crunch (Derakan Besar). Dari saat ini (secara teoritis tentunya) alam semesta secara harafiah akan tetap berjalan dengan cara yang sama, dengan adanya satu Big Bounce (Lambungan Besar), dikatakan sebagai, sebuah Big Bang yang baru.

Teori ini membawa kita pada pertanyaan: apakah rangkaian peristiwa luar biasa yang menguasai siklus atas segala sesuatu dalam alam semesta ini (kebangkitan-kemerosotan-kehancuran) akan terulang terus selamanya, dan apakah akan terus mengikuti pola yang sama, kembali pada masa lampau yang jauh.

Walaupun teori Oscilatting Universe pernah ditolak sebagai ganti dari model alam semesta yang lain, tapi penelitian yang dilakukan baru-baru ini lebih mempercayai kebenaran teori ini. Peneliti dari Penn State University, menggunakan perhitungan gravitasi kuantum, telah berspekulasi tentang sejarah kemungkinan adanya alam semesta sebelum Big Bang.

Menurut perhitungan ini, sebelum Big Bang, memang telah ada suatu keadaan ruang waktu yang sama seperti yang kita miliki, hanya saja ia mengalami tahapan kontraksi. Diperkirakan bahwa gaya gravitasi menarik alam semesta ke dalam sampai mencapai titik dimana properti kuantum ruang waktu menyebabkan gravitasi menjadi semakin padat, dan menciptakan Big Bang yang diperkirakan saat ini akan kita alami.

Bisa jadi variasi dari kosmologikal konstan alfa, suatu fakta aneh yang telah diungkap ilmuwan beberapa tahun ini, berhubungan dengan materi pada alam semesta sebelumnya. Nilai abstrak (alfa) ini — yang dipakai sebagai parameter dalam hukum universal yang membolehkan atom tetap berada pada keadaan menyatu, yang sekaligus juga menggaris bawahi hukum kimia yang telah kita pahami—tidak serupa dengan apa yang kita harapkan dari alam semesta yang tua ini.

Menurut nilai alpha saat ini, alam semesta seharusnya 14 milyaran tahun lebih tua, dan materi seharusnya lebih memancar daripada kondisi yang terkesan saat ini.

Meski begitu, teori siklus ini dapat menjelaskan dengan baik keganjilan dari kestabilan alfa ini. Paul Steinhardt dari Universitas Princeton dan ahli fisika tafsir Neil Turok dari Universitas Cambridge, Inggris, percaya bahwa ia telah eksis sebelum alam semesta kita, tentunya masih ada cukup waktu bagi nilai terukur sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Membangun ide mereka dari perspektif teori String dan teori M, Turok dan Steinhardt berpendapat bah-wa Big Bang sebetulnya bukanlah suatu kejadian yang unik, tetapi hanya merupakan akhir dari sebuah garis panjang tabrakan-tabrakan, yang muncul secara periodik ketika pemuaian alam semesta telah mencapai limitnya.
Asal mula yang hebat dan keterbatasan sains

Seandainya teori tentang alam semesta yang mengalami siklus berulang-ulang telah terbukti, atau bila kita telah menemukan bahwa dunia kita berasal dari Big Crunch yang terjadi sebelumnya, tetapi asal mula dari siklus ledakan-ledakan dan kontraksi-kontraksi yang tak terbatas itu akan tetap merupakan misteri.

Model dari siklus kosmik yang diutarakan dalam Big Bounce tidak memiliki titik akhir, tapi tidakkah ia memiliki sebuah awal? Apakah asal mula ini menjadi sebuah garis pembatas antara sains dan religi? Apakah faktor “keTuhanan” yang akhirnya akan menggarisbawahi asal mula ruang dan waktu, ataukah suatu hari nanti kita akan mampu menjelaskan segala sesuatu, dan penyebab Big Bang, dengan cara yang sepenuhnya berbau sains?

Iptek jaman sekarang telah menuntun kita pada perhitungan-perhitungan yang hasilnya mendekati unsur-unsur pokok dari Big Bang. Tetapi, di luar perhitungan-perhitungan yang makin rumit ini, apakah kita benar-benar telah menjadi lebih tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Masih ada kemungkinan yang amat besar bahwa manusia tidak akan pernah boleh tahu akan kebenaran sejati. Dan meski banyak ilmuwan yang percaya bahwa alam semesta yang kita huni tidak mungkin mengandung apapun yang melebihi hal-hal yang dapat dijelaskan secara sains, tetapi pada suatu waktu nanti umat manusia adakalanya akan menyerah pada godaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pada diri mereka sendiri, atas apa yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi. (http://erabaru.or.id/)

Misteri Pemakaman Xiaohe di Xinjiang, China

Pada tanggal 17 april 2004, pemakaman Xiaohe (Sungai kecil), yang ditemukan oleh arkeolog Swedia Folk Bergman pada tahun 1939 di propinsi Xinjiang, disebut-sebut termasuk sebagai 10 besar penemuan arkeolog di China. Menurut laporan harian Guangming tanggal 23 April, perhatian umum terhadap pemakaman itu mencuat ketika Bergman menerbitkan pengenalan secara detail pada situs arkeologi ditepi sungai Xiaohe di Stockholm tahun 1939 dengan judul Penemuan Arkeologi di Xinjiang.

Namun saat petunjuk penting tempat pemakaman itu, yaitu sungai Xiaohe mengering, masyarakat telah melupakan pemakaman itu dalam beberapa dekade ini. Tidak sampai lebih dari 60 tahun kemudian pada tanggal 11 Desember 2000, seorang anggota Peninggalan Kebudayaan Xinjiang dan Institut Arkeologi di China meneliti gurun pasir Lop Nor dengan melalui sebuah penempatan satelit dan menemukan pemakaman Xiaohe sekali lagi. Pada bulan Maret 2005, penggalian secara menyeluruh berakhir dengan sukses.


Pemakaman Xiaohe merupakan sistem pemakaman berskala besar yang menyediakan informasi tentang peradaban awal yang berharga di Lop Nor kepada seluruh arkeolog didunia. Dengan 167 makam dan lebih dari 1000 peninggalan-peninggalan budaya pada masa itu ditemukan, area Xiaohe tidak serupa dengan tempat lain yang ada di China, atau mungkin diseluruh dunia.

Menurut Idelisi Abuduresule, kepala Peninggalan Kebudayaan Xinjiang dan Institut Arkeologi, pemakaman Xiaohe menarik perhatian masyarakat karena banyak benda-benda peninggalan yang ditemukan masih merupakan misteri, menunggu untuk dipecahkan.
Misteri ke 1 : Peradaban? Tidak ada tanda!

Berdasarkan bukti dari masa sejarah yang lampau, biasanya orang dapat memprediksi tanda peradaban mereka pada masa itu. Akan tetapi setelah diteliti dengan cermat oleh para arkeolog di dalam radius beberapa kilometer, tidak ada benda-benda peninggalan yang menggambarkan kehidupan pada masa lalu.
Misteri ke 2 : Peti jenasah “berbentuk kapal”

Peti jenasah yang ada di pemakaman Xiaohe dipendam dalam lima tingkat, setiap peti jenasah menyerupai perahu pantai yang terbalik dengan mayat yang dikubur didalamnya. Beberapa sapi hidup telah dibunuh dipemakaman itu dan kulitnya digunakan untuk membungkus mayat tersebut. Begitu kulit ini mengering dan menyusut, bungkusan kulit ini akan membalut mayat dengan semakin kencang.
Misteri ke 3 : Sebuah budaya pemujaan?

Pemakaman Xiaohe ditandai dengan balok-balok kayu poplar yang tertancap di atas gunung pasir. Bentuk kayunya berbeda menurut jenis kelamin yang meninggal dan melambangkan organ reproduksi. Kebudayaan misterius yang sangat memuja organ reproduksi, ini sangat jarang terlihat didunia.
Misteri ke 4 : Hilangnya masyarakat Xiaohe

Pemakaman Xiaohe merupakan hal penting untuk mempelajari masyarakat kuno di daerah Lop Nor. Meskipun kami mempunyai petunjuk mengenai orang-orang Xiaohe yang meninggal, akan tetapi kami tidak dapat melacak jejak kehidupan mereka. Misteri terbesar berdasarkan pada peradaban yang ditinggalkan oleh pemakaman Xiaohe adalah hilangnya masyarakat Xiaohe. Apakah sebuah wabah yang telah membinasakan mereka ? Apakah karena timbul perang ? Ataukah mereka benar-benar tertelan gurun pasir ?
Misteri ke 5 : Lumpur aneh yang menyelubungi peti jenasah

Ditemukan 4 peti jenasah yang diselubungi oleh lumpur pada daerah sebelah utara dan selatan kompleks tersebut. Peti ini berbeda bentuk dengan peti jenasah berbentuk perahu yang ditemukan semula ; penutup peti itu berbentuk persegi panjang, dan didalamnya terdapat rangka kayu yang menunjukkan bentuk asli kapal. Apa yang menjadi tanda tanya orang adalah 4 peti jenasah ini ini seluruhnya berisi jenasah perempuan dewasa yang penuh dengan benda-benda penguburan. Para arkeolog tidak dapat menjawab mengapa hanya peti jenasah 4 perempuan dewasa ini yang dilumuri oleh lumpur.
Misteri ke 6 : Mayat-mayat kayu

Pada situs penggalian ini, ditemukan juga 6 peti jenasah yang berisi mayat kayu sebagai pengganti mayat asli. Setelah dianalisa, diketahui bahwa mayat kayu ini dibuat dalam jangka waktu yang singkat. Seluruh mayat kayu ini berjenis kelamin pria dan dibuat dalam bentuk yang serupa. Wajahnya rata dengan tanda X merah diatasnya.

Sumber:
“Apa yang diketahui adalah terbatas, yang tak diketahui adalah tidak terbatas, secara rasional kita berdiri di atas pulau kecil di tengah lautan tanpa batas yang tidak dapat dijabarkan.” —Thomas Henry Huxley (1825-1895)

Setiap gunung, sungai, dan lembah, semua binatang dan umat manusia—yang dulu, sekarang dan yang akan terjadi di masa depan, mereka semua pada suatu ketika pernah menyatu dalam sebuah titik api kecil. Itu adalah suatu titik yang memiliki kepadatan yang tak terbatas, sehingga daya imajinasi kita ini mungkin tidak akan pernah mampu memahaminya sama sekali. Jutaan milyaran ton materi yang digabungkan dengan energi yang besar dari alam semesta, mulai mengembang dan pecah dalam suatu ledakan mahabesar sekitar 20 milyar tahun yang lalu.

Dibandingkan dengan Big Bang (Ledakan Besar), maka suara ledakan dari bom atom yang dianggap paling dahsyat oleh manusia, hanyalah seperti suara nyamuk yang terjatuh di tanah pada sisi lain dari planet bumi. Pengembangan yang konstan dari semua yang ada itu telah merubah alam semesta menjadi sup plasma, secara berangsur-angsur bertransformasi ke suatu kondisi yang terus meningkat, yang hampir sama dengan apa yang kita ketahui saat ini.

Kemudian materi ini lambat laun mendingin, membentuk quarks pertama, elektron, dan proton. Ratusan, ribuan tahun telah lewat, dan elektron dan nukleus bergabung membentuk atom, dan setelah itu, quasar, bintang, sekelompok galaksi, dan semua itu adalah alam semesta yang sudah kita kenali.

Di luar semua informasi yang didapat bertahun-tahun lewat penyelidikan ilmiah, maka fase alam semesta pada momen-momen pertama setelah ledakan hebat itu masih saja menjadi bahan perdebatan sengit.

Berbagai macam teori yang hanya berkutat dalam lingkup ilmu pengetahuan, bagai sedang mengurai benang kusut, saat mereka mencoba menjelaskan masalah keadaan quantum khusus pada fase primitif --peristiwa paling awal dari Big Badaboom. Hingga kini masih tidak ada satu pun jejak fisik yang meyakinkan yang dapat menjelaskan 10 – 33 detik pertama dari alam semesta itu.

Bila kita ingin mencoba memahami awal mula peristiwa ledakan penting ini, bahkan lebih kompleks. Semakin banyak yang kita tahu penyebab pasti dari setiap peristiwa dan secara berangsur-angsur pula kita menyadari bahwa sesuatu itu pasti memiliki penyebabnya, alasan dibalik mengapa alam semesta diciptakan, akan menjadi suatu teka-teki yang lebih besar lagi – mengungkap kebenaran yang terakhir.

Big Bang, Big Crunch, dan Siklus Tak Terbatas

Satu teori yang dikemukakan untuk menjelaskan asal mula yang paling mula adalah Oscillating Universe (Pergerakan Alam Semesta). Banyak ilmuwan memperkirakan bahwa materi yang terkandung dalam alam semesta adalah cukup untuk mencapai suatu gaya gravitasi yang kuat, cukup besar untuk menghentikan pemuaian yang lebih lanjut, dan memulai suatu saat yang telah ditentukan dalam sejarah, membalikkan proses tersebut.

Menurut teori ini, kontraksi yang konstan pada keseluruhan alam semesta akan memuncak pada titik primordial - suatu fenomena yang dijuluki Big Crunch (Derakan Besar). Dari saat ini (secara teoritis tentunya) alam semesta secara harafiah akan tetap berjalan dengan cara yang sama, dengan adanya satu Big Bounce (Lambungan Besar), dikatakan sebagai, sebuah Big Bang yang baru.

Teori ini membawa kita pada pertanyaan: apakah rangkaian peristiwa luar biasa yang menguasai siklus atas segala sesuatu dalam alam semesta ini (kebangkitan-kemerosotan-kehancuran) akan terulang terus selamanya, dan apakah akan terus mengikuti pola yang sama, kembali pada masa lampau yang jauh.

Walaupun teori Oscilatting Universe pernah ditolak sebagai ganti dari model alam semesta yang lain, tapi penelitian yang dilakukan baru-baru ini lebih mempercayai kebenaran teori ini. Peneliti dari Penn State University, menggunakan perhitungan gravitasi kuantum, telah berspekulasi tentang sejarah kemungkinan adanya alam semesta sebelum Big Bang.

Menurut perhitungan ini, sebelum Big Bang, memang telah ada suatu keadaan ruang waktu yang sama seperti yang kita miliki, hanya saja ia mengalami tahapan kontraksi. Diperkirakan bahwa gaya gravitasi menarik alam semesta ke dalam sampai mencapai titik dimana properti kuantum ruang waktu menyebabkan gravitasi menjadi semakin padat, dan menciptakan Big Bang yang diperkirakan saat ini akan kita alami.

Bisa jadi variasi dari kosmologikal konstan alfa, suatu fakta aneh yang telah diungkap ilmuwan beberapa tahun ini, berhubungan dengan materi pada alam semesta sebelumnya. Nilai abstrak (alfa) ini — yang dipakai sebagai parameter dalam hukum universal yang membolehkan atom tetap berada pada keadaan menyatu, yang sekaligus juga menggaris bawahi hukum kimia yang telah kita pahami—tidak serupa dengan apa yang kita harapkan dari alam semesta yang tua ini.

Menurut nilai alpha saat ini, alam semesta seharusnya 14 milyaran tahun lebih tua, dan materi seharusnya lebih memancar daripada kondisi yang terkesan saat ini.

Meski begitu, teori siklus ini dapat menjelaskan dengan baik keganjilan dari kestabilan alfa ini. Paul Steinhardt dari Universitas Princeton dan ahli fisika tafsir Neil Turok dari Universitas Cambridge, Inggris, percaya bahwa ia telah eksis sebelum alam semesta kita, tentunya masih ada cukup waktu bagi nilai terukur sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Membangun ide mereka dari perspektif teori String dan teori M, Turok dan Steinhardt berpendapat bah-wa Big Bang sebetulnya bukanlah suatu kejadian yang unik, tetapi hanya merupakan akhir dari sebuah garis panjang tabrakan-tabrakan, yang muncul secara periodik ketika pemuaian alam semesta telah mencapai limitnya.

Asal mula yang hebat dan keterbatasan sains

Seandainya teori tentang alam semesta yang mengalami siklus berulang-ulang telah terbukti, atau bila kita telah menemukan bahwa dunia kita berasal dari Big Crunch yang terjadi sebelumnya, tetapi asal mula dari siklus ledakan-ledakan dan kontraksi-kontraksi yang tak terbatas itu akan tetap merupakan misteri.

Model dari siklus kosmik yang diutarakan dalam Big Bounce tidak memiliki titik akhir, tapi tidakkah ia memiliki sebuah awal? Apakah asal mula ini menjadi sebuah garis pembatas antara sains dan religi? Apakah faktor “keTuhanan” yang akhirnya akan menggarisbawahi asal mula ruang dan waktu, ataukah suatu hari nanti kita akan mampu menjelaskan segala sesuatu, dan penyebab Big Bang, dengan cara yang sepenuhnya berbau sains?

Iptek jaman sekarang telah menuntun kita pada perhitungan-perhitungan yang hasilnya mendekati unsur-unsur pokok dari Big Bang. Tetapi, di luar perhitungan-perhitungan yang makin rumit ini, apakah kita benar-benar telah menjadi lebih tahu dengan apa yang sesungguhnya terjadi.

Masih ada kemungkinan yang amat besar bahwa manusia tidak akan pernah boleh tahu akan kebenaran sejati. Dan meski banyak ilmuwan yang percaya bahwa alam semesta yang kita huni tidak mungkin mengandung apapun yang melebihi hal-hal yang dapat dijelaskan secara sains, tetapi pada suatu waktu nanti umat manusia adakalanya akan menyerah pada godaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pada diri mereka sendiri, atas apa yang dapat menyebabkan sesuatu terjadi. (http://erabaru.or.id)